Minggu, 27 Oktober 2013
Openmic #10
Minggu, 27 Oktober 2013. Pukul 16.00 WIB. Duduk di Doremi Caffe. Bersama AdityoSetsuna, dan yang lainnya. Waktu berlalu, beberapa orang mulai datang. Senior dari SUCKS juga datang. Lalu admin @StandUpPelajar datang dengan wajah kucel.
Senin, 09 September 2013
Baru Terasa
Kelas 12 ini banyak tugas. Sebenarnya sih dari kelas 10 tugas udah banyak, tapi..baru sekarang ini terasa banget. Yang lalu udah sering menyepelekan guru, tugas, sekolah, banyaklah. Sekarang malah kelabakan jadinya. Apalagi grunya di kelas 12 ini pada mantap semua. Rajin banget masuk kelas. Tepat waktu pula. Apalagi bu Ina, guru bahasa Indonesia yang paling terkenal di sekolah. Bahasa Inggrisnya juga gak kalah. Dulu kalo pelajaran bahasa Inggris, selalu nyantai, makan, mainan hp. Soalnya gurunya udah cukup umur, suaranya cukup pelan juga, lembut pula. Yang sekarang 180° beda deh... Kalo Geografi teteplah... pak Yatin yang unyuunyuu. Olahraganya pak Trio. Agama Kristen tetaplah bu Ester, kalau yang Islam pak Sadi hahaha. TIKnya bu Indri. ini aja lagi nyari tugas TIK buat besok. Eh keinget tugas, udahan ya, mau jadi siswi yang teladan dulu. Bye...
Kamis, 29 Agustus 2013
Gagasanku Akan Hidupku.
Saat ini, aku sudah kelas 12 di SMAN 15 Semarang. Aku memilih jurusan Ilmu Sosial (IS) ketika masuk penjurusan. Aku merasa, kelas IS akan lebih santai daripada kelas Ilmu Alam (IA). Keputusanku ini ditentang keluargaku. Entah mengapa aku berfikir "Ini hidupku, jadi aku berhak menentukannya. Orang-orang disekitarku, mereka hanya bisa mengingatkanku saja". Itulah apa yang aku pikirkan saat itu.
Saat kelas 11, aku senang untuk bermain. Rasa ingin tahuku begitu besar. Kenakalan remaja yang seolah terasa "kenakalan biasa".
Aku sudah berumur 17 tahun 5 bulan. Pikiran dan tubuhku memasuki fase dewasa. Dan sebentar lagi aku akan berurusan dengan lingkungan masyarakat yang sebenarnya. Semua pilihan dan keputusan yang harus kuambil, tidak lagi sebuah permainan. Namun, menjadi sebuah penentu masa depan.
Tulisan ini kubuat untuk apa yang kupikirkan saat ini. Kamis, 28 Agustus 2013. pukul 17.05 WIB.
Saat kelas 11, aku senang untuk bermain. Rasa ingin tahuku begitu besar. Kenakalan remaja yang seolah terasa "kenakalan biasa".
Aku sudah berumur 17 tahun 5 bulan. Pikiran dan tubuhku memasuki fase dewasa. Dan sebentar lagi aku akan berurusan dengan lingkungan masyarakat yang sebenarnya. Semua pilihan dan keputusan yang harus kuambil, tidak lagi sebuah permainan. Namun, menjadi sebuah penentu masa depan.
Tulisan ini kubuat untuk apa yang kupikirkan saat ini. Kamis, 28 Agustus 2013. pukul 17.05 WIB.
Selasa, 02 April 2013
Sebuah Rasa
Kiniku beranjak dewasa, aku mulai merasa suka. Padahal dulunya aku biasa saja. Aku ingin menyangkal kalau aku suka. Bagaimana jika ini cinta? Ah tak mungkin, kau dan aku tak sering bertemu. Memang kita sudah lama kenal, tapi baru sekarang ini kita saling mengenal.
Kupikir kau lebih cocok dengannya. Kapasitasmu bertemu dengannya lebih banyak daripada kapasitasmu bertemu denganku. Bisa saja kau jatuh hati padanya. Aku tak bisa membaca pikiranmu. Aku tak bisa mengerti bahasa tubuhmu. Yang dapat kulakukan hanya berdoa. Kuharap Tuhan tak membuatku jauh bertanya tentang rasa ini.
Aku senang saat kau ada disampingku. Bercanda denganku. Kadang bertengkar denganku. Mengajariku tentang permainanmu.
Rasa rindu mulai hadir saat kau jauh dariku. Pikiran ini selalu dipenuhi oleh bayang dirimu. Namun, maaf aku tak dapat jujur tentang apa yang kurasa kepadamu. Aku takut jika semua ini tak terbalas. Dan kau malah menjauh dariku. Mungkin memang lebih baik aku memendamnya saja...
Sabtu, 02 Februari 2013
Sebuah Coretan Yang Kuharap Berguna
Beberapa waktu terakhir, dilalui dengan banyak aktivitas. Terisi dengan tawa, duka, suka, senyum, dan tangis. Semuanya selalu beriringan dalam hidup.Kalau ada pepatah 'Pengalaman adalah guru terbaik' mungkin bagiku memang benar. Tapi tak jarang aku jatuh pada kesalahan yang sama. Setiap waktu jadi berharga ketika ada yang mengisinya.Namun sekarang, banyak manusia bertopeng. Enggan menunjukan sisi dirinya yang sebenarnya. Enggan menjadi diri sendiri. Lebih memilih mengikuti emosi, daripada mengikuti kata hati. Hingga tiba saat mereka tak dapat mendengar hati yang berbicara. Salah atau benar tak lagi berjarak. Semua dianggap sama. Pembunuhan dianggap biasa. Pembunuhan karakter!Keras! Memang keras dunia ini. Mungkin ini yang menjadikan manusia tak lagi mementingkan perasaannya. Egokah yang menguasinya? Atau hanya perasaanku saja...? Perasaan seorang anak kecil yang masih dibawah umur. Belum mengetahui dunia yang sebenarnya. Belum menjadi bagian dari masyarakat yang sebenarnya.Entahlah... aku mulai mencoba bertahan, dunia tak akan menggerusku! Tapi aku yang akan mengubah dunia...
Senin, 15 Oktober 2012
Apakah aku sendirian?
Saat ini, benar-benar merasakan
sakit hati. Sungguh tak dapat mengeluarkannya. Bahkan ketika tulisan-tulisan sampah ini tercipta. Sepasang mata tak
dapat fokus. Kedua tangan bergetar. Mungkinkah
ini rasa ketakutan atau rasa sakit?
Haruskah aku berpura-pura selamanya? Dapatkah aku
menghindari pertemuan itu? Sangat indah dan penuh dengan bahagia. Siapa yang
tahu kalau disana ada yang menangis. Dia berteriak sangat kencang.
Tapi...mereka semua tak ada yang
mendengar. Apakah mereka tuli? Tidak! Senyuman yang membungkus tangis. Lelucon
konyol yang membungkan setiap nada-nada yang menggetarkan hati dari teriakkan.
Hah, mengerikan. Yang terdekatpun tak tau ada air mata
diantara mereka. Mengapa mata itu memberikan tatapan kebencian? Terluka
karena kata-kata. Lalu... timbul rasa. Sebuah rasa yang tiap waktunya
hanya akan menambah lara. Kemana harus melarikan diri? Siapa? Siapa?! Siapaaa?!!! Siapakah yang salah,
yang memulai, yang terluka, yang tertawa atas semua, atau mungkin yang merasa semua baik-baik saja? Khayalan.
Ya benar! Mungkin hanya sebuah imaginasi,
ilusi, kepalsuan yang diciptakan diri sendiri. Semua terlihat seperti biasa. Seakan
hanya dialah yang membuatnya, membuat
dunianya menjadi berubah, penuh masalah.
Dasar bodoh! Kau pikir dunia ini
punyamu?! Kau pikir Tuhan tak tahu akan prasangka burukmu? Memang Tuhan tidak bisa diajak berdebat. Siapa
yang menyuruhmu meninggalkan-Nya?! Dialah yang berkuasa! Yang kau lakukan hanya
datang lalu pergi tanpa permisi,
berpura-pura pada dunia, seakan kau ini mengenal-Nya dengan sangat baik. Jangan
pernah salahkan Tuhan atas semuanya.
Semua... sangat sulit dipahami. Sejenak,
mencoba untuk berpikir. Mencari tempat yang tepat. Yang ada hanya alunan merdu
angin sore, sebuah nada pengantar kepergian matahari. Sepasang mata terpejam,
mengambil begitu banyak udara yang ada. Seketika... air mata mulai mengalir,
mencoba melarikan diri, mencari celah kecil. Berlari menuju pipi, kemudian
jatuh, dan hilang...
Saat mata mulai terbuka, saat itu
pula hati bertanya ‘Akankah...kehidupan
berakhir seperti air mata tadi? Melarikan diri dari masalah yang menghalangi. Mencari-cari
cara dan ... saat sendiri ... mencoba mengakhiri pelarian yang melelahkan. Tanpa
kata dan tak pernah menyadari, sekita... menghilang... ...’
![]() |
| Friends till the end. |
Tak ada duka, larapun tak pernah
terasa. Sekecil itukah hingga tak ada yang tahu? Tersadar bahwa sebenarnya tak
ada yang menangisi, karena hidup yang
hanya berteman dengan sepi...
Minggu, 07 Oktober 2012
Lanjutan dari yang belum ada judunya
Part 2
Sesampainya di parkiran depan, aku mencari motorku. Saat kutemukan, aku memulai perjalanan pulang. Hari itu adalah salah satu dari ribuan waktuku yang membosankan. Perpisahan dengan mentari ku awali dengan renang. Malamnya adalah saat untuk pesta.
Malam itu, pukul 7, aku menuju smanda untuk menikmati pensi. Berjalan sendiri dan dianggap sebagai lelaki. Didalam aku bertemu banyak temanku. Melihat permainan musik dari band asal Bandung Rocket Rokers cukup menghibur. Aku bilang cukup karena aku tak tau lagu-lagunya. Aku berada jauh dari teman-temanku.
Aku berdiri dizona depan area para cowok. Disebelahku berdiri seorang anak muda, dia seperti kakak kelasku yang dulu pernah aku idolakan karena permainan basketnya. Sama tinggi, sama mancung, sama-sama memiliki kulit khas Indonesia. Awalnya kupikir itu dia, namun setelah kuperhatikan lama, bukan. Saat aku menoleh kearah sebelanya, kulihat...seseorang...wajahnya tak asing. Aku juga memperhatikannya. Setiap kali aku mencuri kesempatan untuk dapat menatapnya. Detik-detik itu, menjadi detik berharga bagiku. Rocket Rokers mulai menyanyikan lagu akhir. Suasananya semakin berbeda. Kali ini aku tidak hanya meliriknya. Aku memberanikan diri untuk menoleh kearanya. Dan terlihat...dia memiliki wajah yang serupa tapi tak sama dengan idolaku. Atau biasa ku sebut KW supernya Kris EXO-M. Sejak saat itu, lirikan mataku tak bisa lepas darinya. Ini dia...dia memalingkan wajahnya kepadaku. Sontak aku terkejut. Melihat ini sebagai kesempatan, aku melihat pula kearahnya. Lihat...wajahnya sangat ketus. Oh tidak...pandangan pertama awal aku berjumpa. Itu menjadi tanda berakhirnya konser RR di smanda.
Langganan:
Postingan (Atom)

