Saat ini, benar-benar merasakan
sakit hati. Sungguh tak dapat mengeluarkannya. Bahkan ketika tulisan-tulisan sampah ini tercipta. Sepasang mata tak
dapat fokus. Kedua tangan bergetar. Mungkinkah
ini rasa ketakutan atau rasa sakit?
Haruskah aku berpura-pura selamanya? Dapatkah aku
menghindari pertemuan itu? Sangat indah dan penuh dengan bahagia. Siapa yang
tahu kalau disana ada yang menangis. Dia berteriak sangat kencang.
Tapi...mereka semua tak ada yang
mendengar. Apakah mereka tuli? Tidak! Senyuman yang membungkus tangis. Lelucon
konyol yang membungkan setiap nada-nada yang menggetarkan hati dari teriakkan.
Hah, mengerikan. Yang terdekatpun tak tau ada air mata
diantara mereka. Mengapa mata itu memberikan tatapan kebencian? Terluka
karena kata-kata. Lalu... timbul rasa. Sebuah rasa yang tiap waktunya
hanya akan menambah lara. Kemana harus melarikan diri? Siapa? Siapa?! Siapaaa?!!! Siapakah yang salah,
yang memulai, yang terluka, yang tertawa atas semua, atau mungkin yang merasa semua baik-baik saja? Khayalan.
Ya benar! Mungkin hanya sebuah imaginasi,
ilusi, kepalsuan yang diciptakan diri sendiri. Semua terlihat seperti biasa. Seakan
hanya dialah yang membuatnya, membuat
dunianya menjadi berubah, penuh masalah.
Dasar bodoh! Kau pikir dunia ini
punyamu?! Kau pikir Tuhan tak tahu akan prasangka burukmu? Memang Tuhan tidak bisa diajak berdebat. Siapa
yang menyuruhmu meninggalkan-Nya?! Dialah yang berkuasa! Yang kau lakukan hanya
datang lalu pergi tanpa permisi,
berpura-pura pada dunia, seakan kau ini mengenal-Nya dengan sangat baik. Jangan
pernah salahkan Tuhan atas semuanya.
Semua... sangat sulit dipahami. Sejenak,
mencoba untuk berpikir. Mencari tempat yang tepat. Yang ada hanya alunan merdu
angin sore, sebuah nada pengantar kepergian matahari. Sepasang mata terpejam,
mengambil begitu banyak udara yang ada. Seketika... air mata mulai mengalir,
mencoba melarikan diri, mencari celah kecil. Berlari menuju pipi, kemudian
jatuh, dan hilang...
Saat mata mulai terbuka, saat itu
pula hati bertanya ‘Akankah...kehidupan
berakhir seperti air mata tadi? Melarikan diri dari masalah yang menghalangi. Mencari-cari
cara dan ... saat sendiri ... mencoba mengakhiri pelarian yang melelahkan. Tanpa
kata dan tak pernah menyadari, sekita... menghilang... ...’
![]() |
| Friends till the end. |
Tak ada duka, larapun tak pernah
terasa. Sekecil itukah hingga tak ada yang tahu? Tersadar bahwa sebenarnya tak
ada yang menangisi, karena hidup yang
hanya berteman dengan sepi...
