Senin, 15 Oktober 2012

Apakah aku sendirian?


Saat ini, benar-benar merasakan sakit hati. Sungguh tak dapat mengeluarkannya. Bahkan ketika tulisan-tulisan sampah ini tercipta. Sepasang mata tak dapat fokus. Kedua tangan bergetar. Mungkinkah ini rasa ketakutan atau rasa sakit?

Haruskah aku berpura-pura selamanya? Dapatkah aku menghindari pertemuan itu? Sangat indah dan penuh dengan bahagia. Siapa yang tahu kalau disana ada yang menangis. Dia berteriak sangat kencang. Tapi...mereka semua tak ada yang mendengar. Apakah mereka tuli? Tidak! Senyuman yang membungkus tangis. Lelucon konyol yang membungkan setiap nada-nada yang menggetarkan hati dari teriakkan.
Hah, mengerikan. Yang terdekatpun tak tau ada air mata diantara mereka. Mengapa mata itu memberikan tatapan kebencian? Terluka karena kata-kata. Lalu... timbul rasa. Sebuah rasa yang tiap waktunya hanya akan menambah lara. Kemana harus melarikan diri? Siapa? Siapa?! Siapaaa?!!! Siapakah yang salah, yang memulai, yang terluka, yang tertawa atas semua, atau mungkin yang merasa semua baik-baik saja? Khayalan. Ya benar! Mungkin hanya sebuah imaginasi, ilusi, kepalsuan yang diciptakan diri sendiri. Semua terlihat seperti biasa. Seakan hanya dialah yang membuatnya, membuat dunianya menjadi berubah, penuh masalah.
Dasar bodoh! Kau pikir dunia ini punyamu?! Kau pikir Tuhan tak tahu akan prasangka burukmu? Memang Tuhan tidak bisa diajak berdebat. Siapa yang menyuruhmu meninggalkan-Nya?! Dialah yang berkuasa! Yang kau lakukan hanya datang lalu pergi tanpa permisi, berpura-pura pada dunia, seakan kau ini mengenal-Nya dengan sangat baik. Jangan pernah salahkan Tuhan atas semuanya.
Semua... sangat sulit dipahami. Sejenak, mencoba untuk berpikir. Mencari tempat yang tepat. Yang ada hanya alunan merdu angin sore, sebuah nada pengantar kepergian matahari. Sepasang mata terpejam, mengambil begitu banyak udara yang ada. Seketika... air mata mulai mengalir, mencoba melarikan diri, mencari celah kecil. Berlari menuju pipi, kemudian jatuh, dan hilang...
Saat mata mulai terbuka, saat itu pula hati bertanya ‘Akankah...kehidupan berakhir seperti air mata tadi? Melarikan diri dari masalah yang menghalangi. Mencari-cari cara dan ... saat sendiri ... mencoba mengakhiri pelarian yang melelahkan. Tanpa kata dan tak pernah menyadari, sekita... menghilang... ...’
Friends till the end.
Tak ada duka, larapun tak pernah terasa. Sekecil itukah hingga tak ada yang tahu? Tersadar bahwa sebenarnya tak ada yang menangisi, karena hidup yang hanya berteman dengan sepi...

Minggu, 07 Oktober 2012

Lanjutan dari yang belum ada judunya

Part 2


Sesampainya di parkiran depan, aku mencari motorku. Saat kutemukan, aku memulai perjalanan pulang. Hari itu adalah salah satu dari ribuan waktuku yang membosankan. Perpisahan dengan mentari ku awali dengan renang. Malamnya adalah saat untuk pesta.
Malam itu, pukul 7, aku menuju smanda untuk menikmati pensi. Berjalan sendiri dan dianggap sebagai lelaki. Didalam aku bertemu banyak temanku. Melihat permainan musik dari band asal Bandung Rocket Rokers cukup menghibur. Aku  bilang cukup karena aku tak tau lagu-lagunya. Aku berada jauh dari teman-temanku.   
Aku berdiri dizona depan area para cowok. Disebelahku berdiri seorang anak muda, dia seperti kakak kelasku yang dulu pernah aku idolakan karena permainan basketnya. Sama tinggi, sama mancung, sama-sama memiliki kulit khas Indonesia. Awalnya kupikir itu dia, namun setelah kuperhatikan lama, bukan. Saat aku menoleh kearah sebelanya, kulihat...seseorang...wajahnya tak asing. Aku juga memperhatikannya. Setiap kali aku mencuri kesempatan untuk dapat menatapnya. Detik-detik itu, menjadi detik berharga bagiku. Rocket Rokers mulai menyanyikan lagu akhir. Suasananya semakin berbeda. Kali ini aku tidak hanya meliriknya. Aku memberanikan diri untuk menoleh kearanya. Dan terlihat...dia memiliki wajah yang serupa tapi tak sama dengan idolaku. Atau biasa ku sebut KW supernya Kris EXO-M. Sejak saat itu, lirikan mataku tak bisa lepas darinya. Ini dia...dia memalingkan wajahnya kepadaku. Sontak aku terkejut. Melihat ini sebagai kesempatan, aku melihat pula kearahnya. Lihat...wajahnya sangat ketus. Oh tidak...pandangan pertama awal aku berjumpa. Itu menjadi tanda berakhirnya konser RR di smanda.

Sabtu, 06 Oktober 2012

(belum terpikirkan)

Part 1


Sinar mentari menyeruak, mengingatkan para ayam jago untuk berkokok. Mentari menujukan keramahannya pada bumi. Di tempat yang tersembunyi, aku mencoba membuka mataku. Otakku mulai memberi perintah pada setiap syaraf di tubuh ini.
Hari ini hari Sabtu, tertulis 8 September 2012. Kumulai dengan aktifitas anak remaja yang duduk dibangku SMA kelas 2. Mandi, mengeringkan tubuh dengan handuk, menyantap hidangan yang telah tersaji diatas meja makan. Selanjutnya mengenakan atribut sekolah. Waktu menunjukan pukul 06.40. Aku mendengar sebuah melodi yang tidak disukai oleh para anak, omelan seorang ibu. Tak ingin mendengar lebih, aku mulai melarikan diri dari rumah. Tentu saja menuju sekolah. Saat ini aku bersama kakak perempuanku, itu karena aku berangkat bersama dengannya. Setibanya di sekolah, aku segera berlari menuju kelasku. Terdengar bunyi bel tanda pelajaran dimulai. Saat pelajaran bahasa Indonesia dimulai, guru yang ternama Bu Endahpun berbicara. Tak mau dianggap sebagai anak durhaka, aku dan teman-teman membantunya berbicara. Selalu dengan cara kami, aku berbicara dengan teman sebangkuku, Eka. Begitu pula dengan yang lainnya. 90 menit itu masih terasa normal bagiku. Lanjut pada pelajaran berikutnya Matematika. Terdengar tidak begitu menyeremkan, karena saat itu kami dibimbing oleh mahasiswa yang sedang berlatih untuk menjadi seorang pendidik yang berkualitas di negeriku, Indonesia. Masih ada dua pelajaran yang harus aku hadapi hari ini. Saat itu, terpikir dibenakku 'hari ini berlalu sangat lama'. Sepulang dari sekolah, aku segera menuju ke kelas bawah yang digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler theater. Setelah aku menyelesaikan kelas theater, aku menuju parkiran depan.


Kamis, 20 September 2012

Panduan Cara Meminta Maaf yang Jitu

Oleh Whole Living

Terkadang orang-orang merasa sangat menyesal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap orang lain, namun sulit untuk mengungkapkannya. Cara berikut memerlukan waktu lima menit dan hampir selalu berhasil.

Bersungguh-sungguh
Jangan mencoba untuk melupakan kesalahan Anda dengan sebuah alasan atau permohonan maaf yang lemah. Anda hanya akan menjadikan kesalahan semakin buruk.

Jadi, jangan katakan “Itu bukan hal yang besar,” “Saya tidak bermaksud melakukannya,” atau “Anda terlalu berlebihan”. Sebaliknya, katakanlah “Saya telah membuat kesalahan besar,” “Seharusnya saya tidak melakukannya,” atau “Saya seharusnya tahu mana yang benar.”

Akui kesalahan yang sebenarnya

Bagian terkecil dari sebuah kesalahan (melewatkan makan malam, komentar yang tidak pada tempatnya) merupakan sebuah gejala untuk dari bentuk perlawanan yang besar. Sebuah permintaan maaf yang baik mengungkapkan masalah yang maksud dengan menggunakan kata “karena”.

Jadi jangan katakan “Maaf, saya lupa tentang rencana makan malam kita”. Sebaliknya, katakanlah “Maaf, saya lupa rencana makan malam kita, saya sangat tidak sopan dengan membatalkan rencana kita pada saat-saat terakhir.”

Jangan bilang “tapi”
Satu kata itu dapat merusak permohonan maaf Anda. Itu adalah sebuah cara untuk menutupi kesalahan (“Maaf saya lupa tentang acara makan malam kita, tapi Anda seharusnya mengingatkan saya”).

Gunakan perkataan bukan dompet
Tidak ada yang dapat menggantikan sebuah kejujuran, memberi pasangan Anda bunga atau hadiah lainnya untuk permohonan maaf dapat diartikan sebagai sebuah sogokan. Hadiah tersebut mengungkapkan penyesalan Anda, tapi tidak menunjukkan bahwa Anda mengerti apa kesalahan Anda. Bila Anda ingin memberikan hadiah, lakukan itu nanti, hadiah itu akan lebih bermakna ketika diberikan dengan tulus.

Diambil dari “Fight Less, Love More: 5-Minute Conversations to Change Your Relationship without Blowing Up or Giving In”, oleh Laurie Puhn.
Sumber : id.she.yahoo.com

Minggu, 16 September 2012

Ketika...

rct.image

Ketika langit sore membawa kegelapan, matahari mulai lari menjauhi malam. Kesenangan yang harusnya tinggal, malahan meninggalkan. Suara gemuruh hati, yang tak dapat menahan lara jiwa ini. Harus bagaimana biar semua tampak jelas ?
Terlambat...kegelapan sudah terlanjur mengisi kehidupanku. Bayangkupun menyatu dengan gelap. Kucoba melarikan diri, namun yang kudapati hanya lelah yang menaiki punggung ini.